Best Friend More Than All
            Sejak aku menjadi siswa baru di SMP ini,aku merasa  bahagia sekali. Namun,sejak saat itu juga kesepian dan kesendirian selalu menjadi makanan sehari-hariku. Ironisnya,kesepian dan kesendirian itu selalu menghantui hari-hariku selama setahun sejak aku duduk di bangku SMP. Kesepian itu selalu kurasakan karna aku harus rela kehilangan seorang sahabat yang ku kenal sangat baik semasa SD. Sayangnya,ia tak bisa bersekolah di sekolah yang sama denganku.
-_-~-_-~-_-
            Satu tahun telah berlalu.Kini,aku telah duduk di bangku kelas 8,tepatnya di kelas 8F. Di kelas ini,aku mendapat banyak teman baru,suasana baru,dan banyak hal baru yang lainnya. Di kelas inilah aku merasa telah menemukan sosok teman yang berbeda dari temanku yang lain.
“Hai Meyy…!!!” serunya seraya menepuk bahuku.
“Hai” Jawabku dengan nada datar.
“Aku baru tahu kalo kamu di kelas ini juga,”
“Iya,hari pertama masuk sekolah aku sakit. Jadi ngga bisa bisa masuk” jelasku.
“Ooo… hmm,ya udah aku ke sana dulu ya Mey…”
“Iya,”
            Caranya memanggil namaku berbeda dari teman-temanku yang lain. Dia memanggilku “Mey” sedangkan teman-temanku yang lain memanggilku “La”. Dua kata berbeda yang seperti akan sering kudengar.
            Sejak percakapan itulah,hatiku kembali terbuka untuk menerima sosok sahabat yang selama setahun ini kucari. Semakin hari,aku semakin akrab dengannya. Aku semakin sering merasakan kebahagiaan dan keceriaan bersamanya. Aku memberikannya perlakuan yang berbeda kepadanya. Bukan berarti aku lebih mengutamakan dia,malah sebaliknya. Aku lebih menunjukkan kecuekanku di depannya daripada senyumku.
            Tapi,lama-kelamaan aku mulai menyadari bahwa perlakuanku kepada Kya selama ini bukanlah perlakuan yang baik terhadap seorang sahabat. Perlahan,aku mulai berusaha mengubah sikapku kepadanya. Meski rasanya cukup sulit,tapi akhirnya aku berhasil menjalaninya.
^_^~^_^~^_^
            Hari-hariku semakin berwarna dipertengahan kelas 8 ini. Aku tak pernah merasa canggung lagi untuk melemparkan seutas senyum ramah kepada Kya atau bahkan mengucapkan selamat karna prestasi yang didapatnya.
“ Waaah… Kya pinter ya. Bisa dapet nilai ulangan Bahasa Indonesia tertinggi…!” ucapku bersemangat memberikan ucapan selamat kepadanya.
“Haha…itu cuma kebetulan kok Mey…”Jawabnya ramah.
“Hmm…ato…jangan-jangan…. Bu Lina itu ibumu ya? Buktinya nilai Bahasa Indonesiamu bagus-bagus…” Aku mulai tertarik untuk menjailinya
“Ha?
Engga Mey… bukan,Bu Lina bukan ibuku. Hmm… jangan-jangan kamu anaknya Pak Kiki ya? Tiap kali ada tes matematika,pasti nilaimu bagus!” Ucap Kya balas menjailiku.
“Hahaha…”
“Tu kan bener. Buktinya kamu Cuma bisa ketawa,ngga bisa ngelak kan?”
“Heyy…! Ya ngga lah aku kan ngga mirip sama Pak Kiki”
“Mirip kok… sama-sama jago matematika…”
            Canda dan tawa kini telah menjadi suatu hal yang mudah untuk kudapatkan. Hidupku kini jauh lebih berwarna.
^_^~^_^~^_^
            Tak terasa,masa-masa indah di kelas 8 sebentar lagi akan berakhir. UAS sudah ada di depan mata. Semua sibuk belajar. Yaa…walaupun ada juga yang masih malas untuk belajar.~
            Setelah beberapa hari menghadapi soal-soal UAS yang sebagian sempat membuat otakku jungkir balik. Akhirnya UAS selesai. Semua temanku merasa lega dan senang. Tapi,tidak denganku. Aku mulai merasa sedih dan bimbang melihat perubahan sikap Kya terhadapku. Sekarang,dia tak sedekat dulu lagi denganku. Aku sendiri,tak tau pasti apa penyebabnya. Yang pasti,sejak saat itu aku selalu merasa sedih dan kesepian “lagi”.
-_-~-_-~-_-
            Saat memasuki tahun ajaran baru,aku baru mengtahui penyebab perubahan sikap Kya. Dan ternyata,dugaanku 99,9% benar. Kya telah memiliki sahabat baru. Dia adalah Thia,teman sekelasku juga waktu aku masih di kelas 8.
            Kya tak pernah lagi peduli padaku. Sedih dan pedih. Itulah yang selalu aku rasakan. Entah sampai kapan Kya akan menjauhiku. Tapi,sampai kapanpun aku akan tetap mengganggap Kya sebagai “My Best Friend More Than All”. Bagaimanapun sifatnya kepadaku saat ini,aku akan tetap mengganggapnya sebagai sahabat terbaik. Sahabat yang pernah menjadi bintang di hatiku yang selalu menerangi hatiku saat gelap gulita,hening,dan juga sepi. Sampai kapanpun, aku tetap menunggunya kembali menjadi Kya yang dulu.
-_-~-_-~-_-
            Siang itu,aku benar-benar merasa kesepian. Tidak ada lagi teman yang bisa menemaniku. Akhirnya,aku menyerah. Aku tak tahan lagi tinggal dalam kesepian ini. Ini benar-benar menyiksaku. Aku memutuskan untuk mencari teman yang bisa di ajak ngobrol meski hanya lewat pesan singkat. Aku mengirim pesan singkat kepada Thia. Tak lama kemudian,aku mendapat balasan dari Thia. Dan sejak saat itulah,kami berdua mulai akrab.
            Melalui percakapan setiap hari,aku mulai bisa akrab dengan Kya lagi. Dan,keadaan menajdi semakin lebih baik. Karna sekarang aku mendapat sahabat baru. Thia. Sekarang,dia juga menjadi sahabat untukku.
            Hebat kan? Aku bisa mempunyai dua orang sahabat yang sangat berharga dan lebih dari segalanya. Sahabat yang akan mewarnai hari-hari dalam hidupku…. ^^


NB        : buat pengarang cerpennya…maaf ya cerpenmu tak edit-edit sak kerepku dewe ^^                 Plus,maaf  juga kalo nama tokohnya tak samarin semua : D


Sahabat Sejati Untuk Haru
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya kisah terindah
Saat kau peluk erat tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
Kepada Dirimu
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku disetiap langkah
Yang meyakiniku kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil s’luruh ragaku
Kuingin kau tahu,ku s’lalu milikmu
Yang menyayangimu
S’panjang hidupku
               
“Tuhan,tak adakah seorangpun di dunia ini yang Kau ciptakan untukku? Untuk menjadi sahabat sejatiku,untuk menjadi pelipur lara ku? Tak adakah seorangpun di luar sana yang mau menemaniku? Tak adakah seorangpun di luar sana yang bisa berhenti menyakitiku? Yang bisa mengerti perasaanku,dan yang benar-benar mau menyayangiku? Tuhan,hanya Engkau yang mengerti perasaanku saat ini…”
Tanpa bisa dibendung lagi,airmata Haru mengalir deras membasahi wajahnya. Rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan Haru saat ini,membuat air matanya tak bisa berhenti mengalir. Seorang sahabat yang dulu pernah menjadi orang yang paling berharga dalam hidup Haru,tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang sangat mengecewakan untuk Haru. Ia berubah menjadi seteru Haru. Ia tak lagi peduli pada perasaan Haru,kasih sayang yang dulu pernah diberikannya untuk Haru tiba-tiba saja lenyap. Haru tak tahu lagi harus berbagi kisah kepada siapa. Dulu,ada sahabat yang selalu ada disaat Haru dalam masalah untuk meringankan beban Haru,untuk menemani Haru,untuk menghibur Haru,dan untuk memberikan pelukan erat pada Haru.
Tapi sekarang,gadis remaja itu hanya bisa mengurung diri di kamar,menangis sendirian dalam kesedihan,dan hanya bisa meratapi masa lalunya. Kenangan-kenangan indah di masa lalu Haru,kini telah menjadi sayatan menyakitkan untuk Haru.
***********
            Haru menuruni tangga menuju ruang makan dengan wajah masam dan mata sembab. Ia bahkan tak lagi menata rambutnya seperti yang biasa dilakukannya setiap hari. Ia membiarkan rambut lurus sebahu yang berwarna hitam tegerai begitu saja.Dari penampilannya saja,sudah terlihat bahwa Haru hari ini sangat tidak bersemangat.
“Haru? Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanya Toki,tante Haru cemas,ketika melihat kondisi keponakannya.
Haru tersenyum kecil dengan terpaksa,”Aku baik-baik saja…”
“Kalo kau sakit. Kau bisa tetap di rumah,tidak perlu pergi ke sekolah,”Toki masih tetap mencemaskan Haru.
“Aku baik-baik saja Tante… hanya….punya sedikit masalah…” jelas Haru berusaha membuat Toki tidak mencemaskannya lagi.
Toki sedikit lega mendengar penjelasan Haru,”Masalah karna sahabat lagi?” Toki tampaknya sudah paham benar dengan keponakannya. Satu-satunya hal selain keluarga yang bisa membuat Haru menangis,adalah sahabat.
Haru hanya mengangguk. Ia bersyukur karna mempunyai Tante yanf tidak selalu ingin tahu urusan orang lain. Jadi,ia tak perlu menceritakan masalahnya,karna itu hanya akan membuatnya menangis lagi. Haru hanya minum setengguk susu dari gelas,hanya untuk menghargai Toki yang sudah menyiapkan sarapan untuknya. Meski sebenarnya,hari ini ia sama sekali tak punya nafsu makan. Haru bergegas meninggalkan ruang makan.
“Aku berangkat Tan…” ucap Haru seraya mengenakan tas ranselnya.
“Iya,hati-hati Haru… tetap semangat…! Hmm…apa kau tidak merasa keberatan dengan matamu?” Ucap Toki bermaksud mengingatkan Haru pada mata sembabnya.
Haru berpikir sejenak,jika ia datang ke sekolah dengan wajah seperti ini,pastinya akan ada banyak pertanyaan yang harus ia jawab. Untuk hari ini,Haru benar-benar tidak ingin banyak bicara,bahkan jika diizinkan,ia ingin mengunci rapat-rapat mulutnya.”Hmm… sebenarnya,ini sedikit mengganggu…” jawab Haru setelah mempertimbangkan semuanya.
“Kalau begitu,pakai ini…”Toki memberikan sebuah kacamata berlensa bening dengan tangkai berwarna ungu kepada Haru. Setidaknya, kacamata itu bisa menyamarkan mata sembab Haru. “Terima kasih…”Jawab Haru dan langsung berangkat ke sekolah.
***********
            Suasana sekolah pagi ini sangat ceria. Semua anak yang ada di halaman sekolah sedang mengumbar senyum mereka. Menunjukkan betapa senangnya mereka hari ini. Haru berjalan perlahan melewati halaman sekolah yang cukup luas. Di salah satu kursi di bawah pohon rindang di halaman sekolah,sekelompok anak sedang berkumpul menyanyikan lagu-lagu ceria,salah satu diantara mereka sedang asyik memainkan gitar mengiringi suara nyanyian teman-temannya. Melihat semangat anak-anak yang lain,Haru mulai mendapatkan semangatnya kembali. Sayangnya,sewaktu Haru berjalan di dekat mereka,mereka sedang menyanyikan lagu yang membuat kegalauan Haru datang lagi…
“Menatap indahnya senyuman di wajahmu…membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya kisah terindah….saat kau peluk erat tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan kepada dirimu…
Aku ingin engkau selalu…hadir dan temani aku disetiap langkah…..”
sebelum lagu itu selesai dinyanyikan,Haru sudah bergegas meninggalkan halaman sekolah yang ramai. Ia berusaha menemukan tempat yang sepi karna air matanya mulai menetes lagi…
            Di balik kacamatanya,mata Haru mulai menghujani wajah Haru dengan air mata kesedihannya lagi. Haru mulai menangis tak terkendali,menangis dalam kesunyian, dn hanya ditemani semilir angin lembut pagi itu.
“Haru?” terdengar suara dari belakang Haru. Suara yang tak asing lagi bagi Haru.
Haru hanya terdiam dan berusaha menghentikan tangisannya. Ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui masalahnya. Ia ingin menyimpan dan menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi tampaknya,usaha Haru sia-sia. Sudah terlambat. Karna sesosok wanita yang dikenal Haru sudah berdiri di depan gadis yang biasanya ceria itu dan secara langsung sudah memergoki Haru yang sedang menangis.
“Haru,kamu kenapa?” tanyanya cemas.
Haru tak bisa menjawab. Mulutnya benar-benar terkunci rapat dan sangat susah di buka, apalagi untuk mengeluarkan suara. “Haru,...”tanyanya lagi.
“A-aku…”Haru tak bisa lagi meneruskan kalimatnya. Ia hanya bisa menangis. Kini,seluruh tubuhnya gemetar,ia tak bisa mengendalikan dirinya. Sakura,yang sedari tadi berdiri di depan Haru dan berusaha menenangkannya,tak tahu lagi harus berbuat apa.
Melihat kesedihan Haru,mata Sakura mulai ikut berkaca-kaca,ia tahu kalaupun ia bertanya pada Haru,ia tak akan mendapat jawaban. Ia ingin menenangkan Haru,tapi benar-benar tak tahu caranya. Ia mendekat pada Haru,memegang kedua tangan Haru yang sedari tadi menutupi mulutnya.
“Haru,berhentilah menangis. Aku benar-benar tak ingin melihatmu sedih seperti ini.”Ucap Sakura penuh perasaan. Saat itu juga,ketika mendengar kalimat Sakura,Haru teringat pada Jeni,sahabat terbaiknya yang kini telah membuatnya menangis seperti ini. Haru mulai limbung,ia kehilangan keseimbangan karna kepalanya mulai pusing. Sakura menarik tangan Haru dan memeluknya erat-erat. Berusaha menahan Haru supaya tidak terjatuh,dan juga berusaha membuat Haru tenang.
Pelukan erat dan tulus Sakura mulai membuat Haru tenang. Kepalanya juga tak lagi terasa pusing. Air matanya mulai berhenti mengalir. Kini,Haru hanya tersedu-sedu di pelukan Sakura. “Tenangkan dirimu Haru,atur nafasmu…”Ucap Sakura lembut. Haru merasa setetes air telah jatuh di pundaknya. Awalnya ia kebingungan,sampai akhirnya ia sadar….Haru melepas pelukannya dan memandang wajah Sakura.
“Sakura,kau menangis?”Tanya Haru ketika ia memergoki gadis manis berwajah lugu itu menangis. Gadis itu hanya tersenyum. “Kenapa?”Haru mulai cemas.
“Aku,aku,hanya tak ingin melihatmu sedih,apalagi sampai menangis.”Jawab Sakura seraya tersenyum  manis.
Tentunya,Haru kaget mendengar jawaban Sakura. Sejak dulu,dia memang sudah menjadi teman Sakura,tapi ia sama sekali tak menyangka jika Sakura bisa menangis saat melihat Haru menangis. Ia sama sekali tak menduganya
“Sakura,terima kasih…” ucap Haru pelan seraya tersenyum senang.
Singkat cerita,sejak hari itu Haru dan Sakura mulai dekat. Kesedihan yang dulu sempat dirasakan Haru karna sahabatnya,perlahan-lahan mulai hilang. Ia kembali menjadi anak yang ceria sekarang. Bahkan,jauh lebih ceria lagi. Haru tak pernah lagi menangis ataupun merasa kesepian. Kini,ia punya teman baik untuk berbagi,teman baik yang selalu ada untuk Haru.
Bel pulang telah berbunyi,semua anak berhamburan keluar kelas. Haru sedang menunggu di depan sekolah. Menunggu Sakura muncul. Dari kejauhan,dilihatnya Jeni sedang berjalan bersama seorang anak perempuan sebayanya. Tampaknya,itu teman sekelas Jeni. Jeni tampak bahagia,senyuman ceria selalu mengembang di wajah cantiknya.
“Aku tak perlu kuatir,karna Jeni sekarang sudah bahagia dengan sahabat barunya. Sepertinya,aku memang bukan sahabat yang baik…
J ”Ucap Haru dalam hati.
“HAARRRUUUU….!!!” Terdengar suara riang memanggil Haru. Ketika Haru mengalihkan pandangannya dari Jeni, dilihatnya Sakura sudah berada di seberang jalan,tepat di seberang Haru. Ia melambai dan bergegas menyebrangi jalan raya.
“Hai Sakuraa…”Sapa Haru ketika Sakura sudah berada di sebelahnya.
“Hai…! Ikut aku yuk…”Ajak Sakura seraya menggandeng tangan Haru.
“Hmm? Mau kemana?” tanya Haru penasaran.
“Sudahlah…ayo! Ikut saja…” jawab Sakura yang semakin membuat Haru penasaran. Akhirnya,Haru memutuskan untuk mengikuti Sakura tanpa tahu kemana sebenarnya tujuan gadis itu.
Ternyata,Sakura membawa Haru ke taman kota. Taman kota hari ini tampak sedikit lengang. Jadi,ada banyak bangku-bangku kosong yang bisa mereka tempati. Sakura mengajak Haru duduk di bangku taman yang berada di dekat kolam ikan. Kolam ini tampak indah berhiaskan bunga teratai yang kebanyakan berwarna ungu.
“Ini tempat favoritku,”ucap Sakura memecah keheningan.
“Kamu sering datang ke sini?”
“Ehem,sesering yang aku bisa. Tapi biasanya,aku hanya datang sendiri,”Sakura mengarahkan pandangannya ke arah kolam yang mirip danau buatan itu,menikmati pemandangan yang ada. “Ada kalanya,ketika aku datang ke sini,aku akan pulang sambil meneteskan air mata.” Haru mengeryit heran mendengar kalimat Sakura,namun sebelum ia sempat bertanya,Sakura sudah meneruskan kalimatnya,”Aku sering melihat sepasang sahabat sedang berjalan di sekitar sini. Dan…itu membuatku iri,rasanya ini sangat tak adil. Kenapa mereka bisa mempunyai sahabat sejati,sementara aku tidak? Aku sudah berusaha menemukan sahabat sejatiku,tapi hasilnya,nol. Tak ada satupun yang kudapat selain rasa sakit hati. Hingga suatu hari,ada sebuah suara yang muncul entah darimana dan yang berbicara kepadaku,seolah-olah ia sangat mengenalku. ‘Sakura,jika kau tak bisa menemukan sahabat sejatimu,itu artinya kau memang tidak ditakdirkan untuk menemukan sahabat sejati seperti orang lain. Mungkin takdirmu berbeda dengan takdir orang lain,jika mereka ditakdirkan untuk menemukan seorang sahabat sejati,kau ditakdirkan untuk menjadi sahabat sejati untuk seseorang….’ “ kini Sakura berhenti berbicara.
            Mereka berada dalam suasana hening. Tak ada lagi berbicara,tak ada suara selain suara angin lembut di siang hari dan suara kicau burung yang ceria. Cahaya matahari yang hangat membuat mereka berada dalam keadaan nyaman. Pepohonan di belakang mereka sesekali bergoyang mengikuti irama `ngin. Permukaan air kolam yang tenang,seakan ikut menjaga keheningan.
“Haru…”Suara lembut Sakura yang terdengar di sela-sela tiupan angin membuat Haru tersadar dari lamunannya.
“I..iya…” Haru sedikit terkejut karna tiba-tiba saja suara Sakura terdengar di tengah keheningan. Ia mengira,Sakura ingin mengajaknya pulang. Jadi,ia membenahi posisi tas ransel di punggungnya dan posisi duduknya sudah di ujung kursi,bersiap-siap untuk berdiri.
“Aku ingin menjadi sahabat sejati untukmu.” Ucap Sakura seraya mengalihkan pandangannya ke arah  Haru.
Haru terkejut mendengar ucapan Sakura. Ia benar-benar tak menyangka Sakura akan mengucapkan kalimat itu,”a-a-apa?” Haru masih tampak heran dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Aku ingin menjadi sahabatmu sampai akhir hayatmu. Aku berjanji,aku akan menjadi sahabat yang baik,aku akan selalu ada untukmu,dan aku berjanji tak akan pernah membuatmu menangis.” Ucap Sakura dengan nada serius sembari memandang Haru dan tersenyum tulus.”
Haru tersenyum,”Terima kasih Sakura. Kau datang disaat yang tepat,membuatku bisa melupakannya.”Haru masih tetap tersenyum. Kini,ia tak lagi ingat pada rasa sakitnya,yang dirasakannya hanya kebahagiaan. Ia sama sekali tak menyangka,bahwa ia akan mendapat sahabat baru secepat ini.
“Hmm… kalau begitu,untuk merayakannya….ayo kita beli ice cream!!!”Ajak Sakura riang.

***********
          Rasanya,hari ini adalah hari terbaik untuk Sakura dan Haru. Mereka menjadi sahabat baik. Hari-hari mereka diwarnai keceriaan bersama. Setiap pagi,mereka mendapat semangat baru untuk memulai hari. Tak ada lagi air mata,tak ada lagi kata kesepian ataupun galau. Hanya canda tawa dan kebahagiaan…
            Haru tak akan menangis lagi meski ia teringat pada Jeni. Meski ia mendengar lagu-lagu sedih,bahkan meski ia mendapat masalah. Karna,ada Sakura yang selalu menemani-nya. Ada Sakura yang akan selalu siap membantunya saat ia dalam kesulitan. Hari-hari Haru rasanya sangat sempurna. Ia punya segalanya. Ia punya apa yang telah ia cari selama ini,’sahabat sejati’.
***********
            Sore hari yang cerah. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Mendadak,gerbang sekolah dipenuhi anak-anak yang sudah tak sabar lagi ingin sampai di rumah masing-masing,dan melepas lelah. Seperti biasa,Haru berdiri di bawah salah satu pohon di halaman sekolah untuk menunggu Sakura. Hari ini,mereka sudah membuat rencana. Mereka akan pergi ke rumah Sakura.
“Harruuu…!!!” Tak lama kemudian,Sakura datang dengan nafas setengah terengah-engah. “Maaf,membuatmu menunggu…”
“Tidak apa-apa … aku juga baru keluar”
“Kita berangkat sekarang?”
“ayo…”
            Berjalan bersama sahabat di bawah naungan langit sore yang cerah. Diiringi hembusan angin lembut,kicauan burung-burung yang ceria,dan bunyi daun-daun di atas pohon yang tertiup angin. Rasanya,ini adalah suasana yang paling sempurna.
“Oh iya…” di tengah perjalanan mereka,tiba-tiba saja Haru berhenti dan merogoh sakunya.”Hampir saja lupa,”
“Kenapa?”Tanya Sakura heran.
“Sini…”Haru menarik perlahan tangan kiri Sakura,lalu memasangkan sebuah gelang berwarna perak ke tangannya. “Simpan baik-baik yaa... Ini gelang persahabatan kita. Sama  seperti punyaku kan…” Ucap Haru girang,seraya menunjukkan tangan kirinya yang sudah dipasangi gelang yang sama.
“Hmm… Terima kasih Haru…Aku berjanji akan menjaganya baik-baik” Sakura tersenyum.
“Terima kasih kembali… ^^”
            Sore itu,adalah saat-saat  yang tak akan pernah mereka lupakan karena,mereka punya banyak waktu yang bisa mereka lewati bersama di rumah Sakura. Dan,tentunya hal itu membuat mereka semakin dekat.
“Kau tahu,rasanya aku ingin hidup 1000 tahun lagi. Kehidupanku jauh lebih menyenangkan, semenjak aku mempunyai sahabat sejati.”Ucap Sakura ketika mereka berada di teras rumahnya,memandangi langit sore.
Haru hanya tersenyum,”Entah kenapa,tapi rasanya kau akan hidup lebih lama daripada aku…” jawabnya llirih.
“Hmm? Kenapa?”
“Entahlah… hanya prediksiku…”Haru mulai tertawa. Sakura menanggapi perkataan Haru hanya sebagai candaan,jadi…ia ikut tertawa dan kembali memandangi awan-awan yang melayang perlahan di atasnya.
***********
            Entah kenapa,tapi sejak bangun tidur,perasaan Haru jadi tidak enak. Dan pagi ini, rasanya ia benar-benar ingin memeluk semua orang terdekatnya. Dimulai dari Toki. Begitu ia menuruni tangga dan melihat Tok di dapur,ia segera memeluk Toki erat-erat seraya berkata,”Aku sayang tante…” seumur hidup Toki,ini adalah kali pertama ia mendengar Haru mengucapkan kalimat itu. Jelas,ini membuatnya heran. “I—iya,iya… Tante juga sayang kamu,” Jawab Toki masih setengah shock dan balas memeluk Haru.
            Begitu Haru sampai di sekolah,ia langsung berusaha menemukan Sakura. Ia memaksa matanya bekerja lebih keras dan lebih jeli untuk menemukan Sakura. Tapi, bukan Sakura yang ditemukannya,melainkan Jeni yang sedang berjalan sendirian tak jauh dari tempat Haru. Dan lagi-lagi,tanpa alasan yang jelas rasanya Haru benar-benar ingin memeluk Jeni. Ia segera menghampiri Jeni dan langsung memeluknya erat-erat.
“Jeni… Maaf,kalau dulu aku punya banyak kesalahan. Maaf kalau aku selalu merepotkanmu,maaf untuk semuanya…”Ucap Haru yang masih memeluk Jeni.”Dan… terima kasih Jeni,kau sudah pernah mau menjadi sahabatku,menemaniku,dan memberiku sejuta kenangan indah. I LoveYou Jeni…” Jeni masih heran dengan perilaku Haru saat ini,namun ia memutukan untuk memeluk Haru juga…
“Itu semua bukan kesalahanmu. Tapi kesalahanku yang terlalu egois. Maaf Haru,aku telah membuatmu menangis,dan terima kasih juga. Karna kau telah menjadi sahabat terbaik untukku. Kau tak pernah tergantikan Haru,tak akan pernah.” Jeni mencurahkan semua isi hatinya. Tepat dihadapan orang yang pernah disakitinya.
            Selesai memeluk Jeni,Haru bergegas ke kelas Sakura. Dan ia beruntung karna Sakura memang ada di sana.
“Sakura…” Ucap Haru pelan seraya langsung memeluk Sakura.
Sakura benar-benar heran,”Ada apa Haru? Kau punya masalah?”
“Tidak… aku hanya,aku hanya… aku hanya ingin memelukmu,”Haru mempererat pelukannya. Sakura balas memluk Haru,meski masih di selimuti perasaan heran.
“Terima kasih Sakura. Terima kasih karna sudah mau menemaniku selama ini. Terima kasih karna sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku sayang kamu…”
“A-mmm…-a…”Sakura masih terbata-bata,”Aku juga sayang kamu Haru…”
            Setelah Haru selesai memeluk Sakura,ia segera kembali ke kelasnya. Meski perasaannya tetap tidak enak,tapi ia tetap berusaha memasang wajah ceria. Menghiasi wajahnya dengan senyuman bersemangat,dan menyapa semua orang yang di lihatnya. Hari ini Haru sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Ia terus terbayang-bayang wajah orang yang disayanginya. Terutama,tiga orang yang dipeluknya erat-erat pagi ini. Rasanya,ia tak ingin kehilangan mereka.
            Bel pulang sekolah akhirnya terdengar. Haru tak seperti biasanya. Ia tak lagi bersemangat saat keluar dari kelas. Langkahnya lemas,ia berjalan tanpa niat. Tapi ia tahu,ia harus pulang. Di depan sekolah,di seberang jalan. Sakura dan Jeni sedang berdiri dalam kegelisahan, menunggu Haru. Dari kejauhan,mereka melihat Haru sedang berjalan dengan sangat pelan sambil melamun.
“HAAARRRUUU….!!!” Teriak Sakura.
Haru mendongak,wajahnya menjadi sumringah saat ia melihat kedua sahabatnya ada di sana,Haru tersenyum seraya melambai kepada mereka.
Sudah sangat dekat. Haru hanya perlu menyebrang jalan,dan ia akan sampai pada kedua sahabatnya. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Hanya perlu beberapa langkah lagi saja. Mereka berdua sudah di depan mata. Haru mulai melangkah-kan kakinya di jalanan aspal yang kasar. Dia sudah sampai di tengah. Hanya sedikit lagi, sedikit lagi…
Namun sayang,tiba-tiba suara benturan keras terdengar dan tiba-tiba saja Haru sudah tergeletak di tengah jalan raya. Bersimbah darah.
“Ha-HAAARRRRUUUU…”Teriak Sakura dan Jeni bersamaan. Mereka histeris dan langsung menghampiri Haru. Sakura meletakkan kepala Haru yang juga sudah berdarah-darah di lengan kanannya. Ia memandang wajah Haru yang sudah bersimbah darah di mana-mana. Rasanya,ini seperti mimpi terburuk Sakura. Ia tak bisa lagi membendung air matanya.
“Ha- ha- haruu…”Ucapnya lirih ditengah tangisan histerisnya.
“Jangan menangis Sakura. Harusnya kau senang,kau sudah berhasil menjadi sahabat sejatiku. Kau sudah berhasil menepati janjimu,kau sudah menjadi sahabatku sampai akhir hayatku.”Ucap Haru lemah,namun ia masih tetap berusaha tersenyum demi sahabat-sahabatny.
“Haru,ber-bertahanlah…”Jeni yang sedari tadi menggenggam tangan kanan Haru mulai ikut menangis.
“Jenii… jangan menangis. Tetap tersenyum…
Kalian semua terima kasih,…Aku sayang kalian…” Setelah mengucapkan kalimat itu,Haru menutup matanya dan berhenti bernafas.
“Haru?Haruuu….!!! Haru,bangun,Haruuu…!!!”Sakura masih menggoncang-goncangkan tubuh Haru,berusaha membuatnya kembali.
“Sakura,Ha-Haru,Haru sudah pergi untuk selamanya…” Ucap Jeni yang langsung menangis histeris.
“A...Ambulance….!!!! CEPAT PANGGIL AMBULANCE!!!”Teriak Sakura kepada semua orang yang menatap mereka tertegun. Satpam sekolah segera mencari telepon dan menghubungi ambulance. Sopir truck yang telah menabrak Haru mulai panik. Tergambar jelas penyesalan di wajahnya. Ia telah membunuh seorang gadis remaja.
            Sakura menatap tubuh lemah Haru yang sudah tak berdaya. Ia sama sekali tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Ia hanya bisa memeluk tubuh Haru yang sudah tak bernyawa. Kenangan-kenangan indah yang telah diberikan Haru untuknya,kini terbayang jelas di pikirannya. Ia akan mmelakukan apapun,untuk membuat Haru kembali. Apapun. Airmatanya masih mengalir,ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
            Jeni menggenggam tangan Haru erat-erat. Ia sangat menyesal sudah pernah meninggalkan sahabat terbaiknya. Kini ia hanya bisa menangisi kepergian Haru yang menyisakan 1000 kenangan indah untuknya. Hanya airmata yang bisa ia keluarkan. Bukan lagi kata-kata.
            Toki yang baru datang seakan tak percaya melihat keponakannya yang tadi pagi baru saja memeluknya dan berkata ‘aku sayang tante’ kini telah tergeletak lemah tak bernyawa dan bersimbah darah di tengah jalan raya. Lutut-lututnya tak kuat lagi membantunya berdiri. Ia bersimpuh di dekat mayat Haru dengan airmata kesedihannya.
            Begitu ambulance datang,mereka membawa mayat Haru ke rumah sakit. Suara sirine ambulance sangat menyayat hati mereka. Apalagi,mereka tahu. Ambulance itu sedang membawa mayat Haru. Orang yang mereka sayang. Toki mulai bisa menenangkan diri. Ia menrangkul Sakura dan Jeni yang masih tersedu-sedu di kanan dan kirinya.
“Sudahlah…jangan menangis lagi. Tante yakin,di sana,Haru tak akan senang melihat kalian menangisinya seperti ini. Harusnya kalian bahagia. Karna,kalian telah memgukir kenangan-kenangan bahagia semasa hidup Haru. Dan harusnya,kalian bersyukur karna tadi pagi, kalian masih sempat mendapat pelukan sayang dari Haru,dan masih bisa mendengar ia berkata ‘aku sayang kalian’…” Toki tersenyum seraya memeluk erat kedua sahabat Haru.
            “Haru,sahabat terbaikku. Terima kasih buat semuanya. Semoga kamu bahagia di sana. Aku akan selalu menyayangimu…”Ucap Sakura dalam hati seraya tersenyum memandang gelang perak pemberian Haru.


Flying Pink Butterfly Kaoani

About Blog

don't forget to follow and read a enjoying my stories : D

Diposting oleh Bernedicta Bubia

Best Friend More Than All
            Sejak aku menjadi siswa baru di SMP ini,aku merasa  bahagia sekali. Namun,sejak saat itu juga kesepian dan kesendirian selalu menjadi makanan sehari-hariku. Ironisnya,kesepian dan kesendirian itu selalu menghantui hari-hariku selama setahun sejak aku duduk di bangku SMP. Kesepian itu selalu kurasakan karna aku harus rela kehilangan seorang sahabat yang ku kenal sangat baik semasa SD. Sayangnya,ia tak bisa bersekolah di sekolah yang sama denganku.
-_-~-_-~-_-
            Satu tahun telah berlalu.Kini,aku telah duduk di bangku kelas 8,tepatnya di kelas 8F. Di kelas ini,aku mendapat banyak teman baru,suasana baru,dan banyak hal baru yang lainnya. Di kelas inilah aku merasa telah menemukan sosok teman yang berbeda dari temanku yang lain.
“Hai Meyy…!!!” serunya seraya menepuk bahuku.
“Hai” Jawabku dengan nada datar.
“Aku baru tahu kalo kamu di kelas ini juga,”
“Iya,hari pertama masuk sekolah aku sakit. Jadi ngga bisa bisa masuk” jelasku.
“Ooo… hmm,ya udah aku ke sana dulu ya Mey…”
“Iya,”
            Caranya memanggil namaku berbeda dari teman-temanku yang lain. Dia memanggilku “Mey” sedangkan teman-temanku yang lain memanggilku “La”. Dua kata berbeda yang seperti akan sering kudengar.
            Sejak percakapan itulah,hatiku kembali terbuka untuk menerima sosok sahabat yang selama setahun ini kucari. Semakin hari,aku semakin akrab dengannya. Aku semakin sering merasakan kebahagiaan dan keceriaan bersamanya. Aku memberikannya perlakuan yang berbeda kepadanya. Bukan berarti aku lebih mengutamakan dia,malah sebaliknya. Aku lebih menunjukkan kecuekanku di depannya daripada senyumku.
            Tapi,lama-kelamaan aku mulai menyadari bahwa perlakuanku kepada Kya selama ini bukanlah perlakuan yang baik terhadap seorang sahabat. Perlahan,aku mulai berusaha mengubah sikapku kepadanya. Meski rasanya cukup sulit,tapi akhirnya aku berhasil menjalaninya.
^_^~^_^~^_^
            Hari-hariku semakin berwarna dipertengahan kelas 8 ini. Aku tak pernah merasa canggung lagi untuk melemparkan seutas senyum ramah kepada Kya atau bahkan mengucapkan selamat karna prestasi yang didapatnya.
“ Waaah… Kya pinter ya. Bisa dapet nilai ulangan Bahasa Indonesia tertinggi…!” ucapku bersemangat memberikan ucapan selamat kepadanya.
“Haha…itu cuma kebetulan kok Mey…”Jawabnya ramah.
“Hmm…ato…jangan-jangan…. Bu Lina itu ibumu ya? Buktinya nilai Bahasa Indonesiamu bagus-bagus…” Aku mulai tertarik untuk menjailinya
“Ha?
Engga Mey… bukan,Bu Lina bukan ibuku. Hmm… jangan-jangan kamu anaknya Pak Kiki ya? Tiap kali ada tes matematika,pasti nilaimu bagus!” Ucap Kya balas menjailiku.
“Hahaha…”
“Tu kan bener. Buktinya kamu Cuma bisa ketawa,ngga bisa ngelak kan?”
“Heyy…! Ya ngga lah aku kan ngga mirip sama Pak Kiki”
“Mirip kok… sama-sama jago matematika…”
            Canda dan tawa kini telah menjadi suatu hal yang mudah untuk kudapatkan. Hidupku kini jauh lebih berwarna.
^_^~^_^~^_^
            Tak terasa,masa-masa indah di kelas 8 sebentar lagi akan berakhir. UAS sudah ada di depan mata. Semua sibuk belajar. Yaa…walaupun ada juga yang masih malas untuk belajar.~
            Setelah beberapa hari menghadapi soal-soal UAS yang sebagian sempat membuat otakku jungkir balik. Akhirnya UAS selesai. Semua temanku merasa lega dan senang. Tapi,tidak denganku. Aku mulai merasa sedih dan bimbang melihat perubahan sikap Kya terhadapku. Sekarang,dia tak sedekat dulu lagi denganku. Aku sendiri,tak tau pasti apa penyebabnya. Yang pasti,sejak saat itu aku selalu merasa sedih dan kesepian “lagi”.
-_-~-_-~-_-
            Saat memasuki tahun ajaran baru,aku baru mengtahui penyebab perubahan sikap Kya. Dan ternyata,dugaanku 99,9% benar. Kya telah memiliki sahabat baru. Dia adalah Thia,teman sekelasku juga waktu aku masih di kelas 8.
            Kya tak pernah lagi peduli padaku. Sedih dan pedih. Itulah yang selalu aku rasakan. Entah sampai kapan Kya akan menjauhiku. Tapi,sampai kapanpun aku akan tetap mengganggap Kya sebagai “My Best Friend More Than All”. Bagaimanapun sifatnya kepadaku saat ini,aku akan tetap mengganggapnya sebagai sahabat terbaik. Sahabat yang pernah menjadi bintang di hatiku yang selalu menerangi hatiku saat gelap gulita,hening,dan juga sepi. Sampai kapanpun, aku tetap menunggunya kembali menjadi Kya yang dulu.
-_-~-_-~-_-
            Siang itu,aku benar-benar merasa kesepian. Tidak ada lagi teman yang bisa menemaniku. Akhirnya,aku menyerah. Aku tak tahan lagi tinggal dalam kesepian ini. Ini benar-benar menyiksaku. Aku memutuskan untuk mencari teman yang bisa di ajak ngobrol meski hanya lewat pesan singkat. Aku mengirim pesan singkat kepada Thia. Tak lama kemudian,aku mendapat balasan dari Thia. Dan sejak saat itulah,kami berdua mulai akrab.
            Melalui percakapan setiap hari,aku mulai bisa akrab dengan Kya lagi. Dan,keadaan menajdi semakin lebih baik. Karna sekarang aku mendapat sahabat baru. Thia. Sekarang,dia juga menjadi sahabat untukku.
            Hebat kan? Aku bisa mempunyai dua orang sahabat yang sangat berharga dan lebih dari segalanya. Sahabat yang akan mewarnai hari-hari dalam hidupku…. ^^


NB        : buat pengarang cerpennya…maaf ya cerpenmu tak edit-edit sak kerepku dewe ^^                 Plus,maaf  juga kalo nama tokohnya tak samarin semua : D

BEST FRIEND

Diposting oleh Bernedicta Bubia


Diposting oleh Bernedicta Bubia


Sahabat Sejati Untuk Haru
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya kisah terindah
Saat kau peluk erat tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
Kepada Dirimu
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku disetiap langkah
Yang meyakiniku kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil s’luruh ragaku
Kuingin kau tahu,ku s’lalu milikmu
Yang menyayangimu
S’panjang hidupku
               
“Tuhan,tak adakah seorangpun di dunia ini yang Kau ciptakan untukku? Untuk menjadi sahabat sejatiku,untuk menjadi pelipur lara ku? Tak adakah seorangpun di luar sana yang mau menemaniku? Tak adakah seorangpun di luar sana yang bisa berhenti menyakitiku? Yang bisa mengerti perasaanku,dan yang benar-benar mau menyayangiku? Tuhan,hanya Engkau yang mengerti perasaanku saat ini…”
Tanpa bisa dibendung lagi,airmata Haru mengalir deras membasahi wajahnya. Rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan Haru saat ini,membuat air matanya tak bisa berhenti mengalir. Seorang sahabat yang dulu pernah menjadi orang yang paling berharga dalam hidup Haru,tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang sangat mengecewakan untuk Haru. Ia berubah menjadi seteru Haru. Ia tak lagi peduli pada perasaan Haru,kasih sayang yang dulu pernah diberikannya untuk Haru tiba-tiba saja lenyap. Haru tak tahu lagi harus berbagi kisah kepada siapa. Dulu,ada sahabat yang selalu ada disaat Haru dalam masalah untuk meringankan beban Haru,untuk menemani Haru,untuk menghibur Haru,dan untuk memberikan pelukan erat pada Haru.
Tapi sekarang,gadis remaja itu hanya bisa mengurung diri di kamar,menangis sendirian dalam kesedihan,dan hanya bisa meratapi masa lalunya. Kenangan-kenangan indah di masa lalu Haru,kini telah menjadi sayatan menyakitkan untuk Haru.
***********
            Haru menuruni tangga menuju ruang makan dengan wajah masam dan mata sembab. Ia bahkan tak lagi menata rambutnya seperti yang biasa dilakukannya setiap hari. Ia membiarkan rambut lurus sebahu yang berwarna hitam tegerai begitu saja.Dari penampilannya saja,sudah terlihat bahwa Haru hari ini sangat tidak bersemangat.
“Haru? Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanya Toki,tante Haru cemas,ketika melihat kondisi keponakannya.
Haru tersenyum kecil dengan terpaksa,”Aku baik-baik saja…”
“Kalo kau sakit. Kau bisa tetap di rumah,tidak perlu pergi ke sekolah,”Toki masih tetap mencemaskan Haru.
“Aku baik-baik saja Tante… hanya….punya sedikit masalah…” jelas Haru berusaha membuat Toki tidak mencemaskannya lagi.
Toki sedikit lega mendengar penjelasan Haru,”Masalah karna sahabat lagi?” Toki tampaknya sudah paham benar dengan keponakannya. Satu-satunya hal selain keluarga yang bisa membuat Haru menangis,adalah sahabat.
Haru hanya mengangguk. Ia bersyukur karna mempunyai Tante yanf tidak selalu ingin tahu urusan orang lain. Jadi,ia tak perlu menceritakan masalahnya,karna itu hanya akan membuatnya menangis lagi. Haru hanya minum setengguk susu dari gelas,hanya untuk menghargai Toki yang sudah menyiapkan sarapan untuknya. Meski sebenarnya,hari ini ia sama sekali tak punya nafsu makan. Haru bergegas meninggalkan ruang makan.
“Aku berangkat Tan…” ucap Haru seraya mengenakan tas ranselnya.
“Iya,hati-hati Haru… tetap semangat…! Hmm…apa kau tidak merasa keberatan dengan matamu?” Ucap Toki bermaksud mengingatkan Haru pada mata sembabnya.
Haru berpikir sejenak,jika ia datang ke sekolah dengan wajah seperti ini,pastinya akan ada banyak pertanyaan yang harus ia jawab. Untuk hari ini,Haru benar-benar tidak ingin banyak bicara,bahkan jika diizinkan,ia ingin mengunci rapat-rapat mulutnya.”Hmm… sebenarnya,ini sedikit mengganggu…” jawab Haru setelah mempertimbangkan semuanya.
“Kalau begitu,pakai ini…”Toki memberikan sebuah kacamata berlensa bening dengan tangkai berwarna ungu kepada Haru. Setidaknya, kacamata itu bisa menyamarkan mata sembab Haru. “Terima kasih…”Jawab Haru dan langsung berangkat ke sekolah.
***********
            Suasana sekolah pagi ini sangat ceria. Semua anak yang ada di halaman sekolah sedang mengumbar senyum mereka. Menunjukkan betapa senangnya mereka hari ini. Haru berjalan perlahan melewati halaman sekolah yang cukup luas. Di salah satu kursi di bawah pohon rindang di halaman sekolah,sekelompok anak sedang berkumpul menyanyikan lagu-lagu ceria,salah satu diantara mereka sedang asyik memainkan gitar mengiringi suara nyanyian teman-temannya. Melihat semangat anak-anak yang lain,Haru mulai mendapatkan semangatnya kembali. Sayangnya,sewaktu Haru berjalan di dekat mereka,mereka sedang menyanyikan lagu yang membuat kegalauan Haru datang lagi…
“Menatap indahnya senyuman di wajahmu…membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya kisah terindah….saat kau peluk erat tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan kepada dirimu…
Aku ingin engkau selalu…hadir dan temani aku disetiap langkah…..”
sebelum lagu itu selesai dinyanyikan,Haru sudah bergegas meninggalkan halaman sekolah yang ramai. Ia berusaha menemukan tempat yang sepi karna air matanya mulai menetes lagi…
            Di balik kacamatanya,mata Haru mulai menghujani wajah Haru dengan air mata kesedihannya lagi. Haru mulai menangis tak terkendali,menangis dalam kesunyian, dn hanya ditemani semilir angin lembut pagi itu.
“Haru?” terdengar suara dari belakang Haru. Suara yang tak asing lagi bagi Haru.
Haru hanya terdiam dan berusaha menghentikan tangisannya. Ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui masalahnya. Ia ingin menyimpan dan menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi tampaknya,usaha Haru sia-sia. Sudah terlambat. Karna sesosok wanita yang dikenal Haru sudah berdiri di depan gadis yang biasanya ceria itu dan secara langsung sudah memergoki Haru yang sedang menangis.
“Haru,kamu kenapa?” tanyanya cemas.
Haru tak bisa menjawab. Mulutnya benar-benar terkunci rapat dan sangat susah di buka, apalagi untuk mengeluarkan suara. “Haru,...”tanyanya lagi.
“A-aku…”Haru tak bisa lagi meneruskan kalimatnya. Ia hanya bisa menangis. Kini,seluruh tubuhnya gemetar,ia tak bisa mengendalikan dirinya. Sakura,yang sedari tadi berdiri di depan Haru dan berusaha menenangkannya,tak tahu lagi harus berbuat apa.
Melihat kesedihan Haru,mata Sakura mulai ikut berkaca-kaca,ia tahu kalaupun ia bertanya pada Haru,ia tak akan mendapat jawaban. Ia ingin menenangkan Haru,tapi benar-benar tak tahu caranya. Ia mendekat pada Haru,memegang kedua tangan Haru yang sedari tadi menutupi mulutnya.
“Haru,berhentilah menangis. Aku benar-benar tak ingin melihatmu sedih seperti ini.”Ucap Sakura penuh perasaan. Saat itu juga,ketika mendengar kalimat Sakura,Haru teringat pada Jeni,sahabat terbaiknya yang kini telah membuatnya menangis seperti ini. Haru mulai limbung,ia kehilangan keseimbangan karna kepalanya mulai pusing. Sakura menarik tangan Haru dan memeluknya erat-erat. Berusaha menahan Haru supaya tidak terjatuh,dan juga berusaha membuat Haru tenang.
Pelukan erat dan tulus Sakura mulai membuat Haru tenang. Kepalanya juga tak lagi terasa pusing. Air matanya mulai berhenti mengalir. Kini,Haru hanya tersedu-sedu di pelukan Sakura. “Tenangkan dirimu Haru,atur nafasmu…”Ucap Sakura lembut. Haru merasa setetes air telah jatuh di pundaknya. Awalnya ia kebingungan,sampai akhirnya ia sadar….Haru melepas pelukannya dan memandang wajah Sakura.
“Sakura,kau menangis?”Tanya Haru ketika ia memergoki gadis manis berwajah lugu itu menangis. Gadis itu hanya tersenyum. “Kenapa?”Haru mulai cemas.
“Aku,aku,hanya tak ingin melihatmu sedih,apalagi sampai menangis.”Jawab Sakura seraya tersenyum  manis.
Tentunya,Haru kaget mendengar jawaban Sakura. Sejak dulu,dia memang sudah menjadi teman Sakura,tapi ia sama sekali tak menyangka jika Sakura bisa menangis saat melihat Haru menangis. Ia sama sekali tak menduganya
“Sakura,terima kasih…” ucap Haru pelan seraya tersenyum senang.
Singkat cerita,sejak hari itu Haru dan Sakura mulai dekat. Kesedihan yang dulu sempat dirasakan Haru karna sahabatnya,perlahan-lahan mulai hilang. Ia kembali menjadi anak yang ceria sekarang. Bahkan,jauh lebih ceria lagi. Haru tak pernah lagi menangis ataupun merasa kesepian. Kini,ia punya teman baik untuk berbagi,teman baik yang selalu ada untuk Haru.
Bel pulang telah berbunyi,semua anak berhamburan keluar kelas. Haru sedang menunggu di depan sekolah. Menunggu Sakura muncul. Dari kejauhan,dilihatnya Jeni sedang berjalan bersama seorang anak perempuan sebayanya. Tampaknya,itu teman sekelas Jeni. Jeni tampak bahagia,senyuman ceria selalu mengembang di wajah cantiknya.
“Aku tak perlu kuatir,karna Jeni sekarang sudah bahagia dengan sahabat barunya. Sepertinya,aku memang bukan sahabat yang baik…
J ”Ucap Haru dalam hati.
“HAARRRUUUU….!!!” Terdengar suara riang memanggil Haru. Ketika Haru mengalihkan pandangannya dari Jeni, dilihatnya Sakura sudah berada di seberang jalan,tepat di seberang Haru. Ia melambai dan bergegas menyebrangi jalan raya.
“Hai Sakuraa…”Sapa Haru ketika Sakura sudah berada di sebelahnya.
“Hai…! Ikut aku yuk…”Ajak Sakura seraya menggandeng tangan Haru.
“Hmm? Mau kemana?” tanya Haru penasaran.
“Sudahlah…ayo! Ikut saja…” jawab Sakura yang semakin membuat Haru penasaran. Akhirnya,Haru memutuskan untuk mengikuti Sakura tanpa tahu kemana sebenarnya tujuan gadis itu.
Ternyata,Sakura membawa Haru ke taman kota. Taman kota hari ini tampak sedikit lengang. Jadi,ada banyak bangku-bangku kosong yang bisa mereka tempati. Sakura mengajak Haru duduk di bangku taman yang berada di dekat kolam ikan. Kolam ini tampak indah berhiaskan bunga teratai yang kebanyakan berwarna ungu.
“Ini tempat favoritku,”ucap Sakura memecah keheningan.
“Kamu sering datang ke sini?”
“Ehem,sesering yang aku bisa. Tapi biasanya,aku hanya datang sendiri,”Sakura mengarahkan pandangannya ke arah kolam yang mirip danau buatan itu,menikmati pemandangan yang ada. “Ada kalanya,ketika aku datang ke sini,aku akan pulang sambil meneteskan air mata.” Haru mengeryit heran mendengar kalimat Sakura,namun sebelum ia sempat bertanya,Sakura sudah meneruskan kalimatnya,”Aku sering melihat sepasang sahabat sedang berjalan di sekitar sini. Dan…itu membuatku iri,rasanya ini sangat tak adil. Kenapa mereka bisa mempunyai sahabat sejati,sementara aku tidak? Aku sudah berusaha menemukan sahabat sejatiku,tapi hasilnya,nol. Tak ada satupun yang kudapat selain rasa sakit hati. Hingga suatu hari,ada sebuah suara yang muncul entah darimana dan yang berbicara kepadaku,seolah-olah ia sangat mengenalku. ‘Sakura,jika kau tak bisa menemukan sahabat sejatimu,itu artinya kau memang tidak ditakdirkan untuk menemukan sahabat sejati seperti orang lain. Mungkin takdirmu berbeda dengan takdir orang lain,jika mereka ditakdirkan untuk menemukan seorang sahabat sejati,kau ditakdirkan untuk menjadi sahabat sejati untuk seseorang….’ “ kini Sakura berhenti berbicara.
            Mereka berada dalam suasana hening. Tak ada lagi berbicara,tak ada suara selain suara angin lembut di siang hari dan suara kicau burung yang ceria. Cahaya matahari yang hangat membuat mereka berada dalam keadaan nyaman. Pepohonan di belakang mereka sesekali bergoyang mengikuti irama `ngin. Permukaan air kolam yang tenang,seakan ikut menjaga keheningan.
“Haru…”Suara lembut Sakura yang terdengar di sela-sela tiupan angin membuat Haru tersadar dari lamunannya.
“I..iya…” Haru sedikit terkejut karna tiba-tiba saja suara Sakura terdengar di tengah keheningan. Ia mengira,Sakura ingin mengajaknya pulang. Jadi,ia membenahi posisi tas ransel di punggungnya dan posisi duduknya sudah di ujung kursi,bersiap-siap untuk berdiri.
“Aku ingin menjadi sahabat sejati untukmu.” Ucap Sakura seraya mengalihkan pandangannya ke arah  Haru.
Haru terkejut mendengar ucapan Sakura. Ia benar-benar tak menyangka Sakura akan mengucapkan kalimat itu,”a-a-apa?” Haru masih tampak heran dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Aku ingin menjadi sahabatmu sampai akhir hayatmu. Aku berjanji,aku akan menjadi sahabat yang baik,aku akan selalu ada untukmu,dan aku berjanji tak akan pernah membuatmu menangis.” Ucap Sakura dengan nada serius sembari memandang Haru dan tersenyum tulus.”
Haru tersenyum,”Terima kasih Sakura. Kau datang disaat yang tepat,membuatku bisa melupakannya.”Haru masih tetap tersenyum. Kini,ia tak lagi ingat pada rasa sakitnya,yang dirasakannya hanya kebahagiaan. Ia sama sekali tak menyangka,bahwa ia akan mendapat sahabat baru secepat ini.
“Hmm… kalau begitu,untuk merayakannya….ayo kita beli ice cream!!!”Ajak Sakura riang.

***********
          Rasanya,hari ini adalah hari terbaik untuk Sakura dan Haru. Mereka menjadi sahabat baik. Hari-hari mereka diwarnai keceriaan bersama. Setiap pagi,mereka mendapat semangat baru untuk memulai hari. Tak ada lagi air mata,tak ada lagi kata kesepian ataupun galau. Hanya canda tawa dan kebahagiaan…
            Haru tak akan menangis lagi meski ia teringat pada Jeni. Meski ia mendengar lagu-lagu sedih,bahkan meski ia mendapat masalah. Karna,ada Sakura yang selalu menemani-nya. Ada Sakura yang akan selalu siap membantunya saat ia dalam kesulitan. Hari-hari Haru rasanya sangat sempurna. Ia punya segalanya. Ia punya apa yang telah ia cari selama ini,’sahabat sejati’.
***********
            Sore hari yang cerah. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Mendadak,gerbang sekolah dipenuhi anak-anak yang sudah tak sabar lagi ingin sampai di rumah masing-masing,dan melepas lelah. Seperti biasa,Haru berdiri di bawah salah satu pohon di halaman sekolah untuk menunggu Sakura. Hari ini,mereka sudah membuat rencana. Mereka akan pergi ke rumah Sakura.
“Harruuu…!!!” Tak lama kemudian,Sakura datang dengan nafas setengah terengah-engah. “Maaf,membuatmu menunggu…”
“Tidak apa-apa … aku juga baru keluar”
“Kita berangkat sekarang?”
“ayo…”
            Berjalan bersama sahabat di bawah naungan langit sore yang cerah. Diiringi hembusan angin lembut,kicauan burung-burung yang ceria,dan bunyi daun-daun di atas pohon yang tertiup angin. Rasanya,ini adalah suasana yang paling sempurna.
“Oh iya…” di tengah perjalanan mereka,tiba-tiba saja Haru berhenti dan merogoh sakunya.”Hampir saja lupa,”
“Kenapa?”Tanya Sakura heran.
“Sini…”Haru menarik perlahan tangan kiri Sakura,lalu memasangkan sebuah gelang berwarna perak ke tangannya. “Simpan baik-baik yaa... Ini gelang persahabatan kita. Sama  seperti punyaku kan…” Ucap Haru girang,seraya menunjukkan tangan kirinya yang sudah dipasangi gelang yang sama.
“Hmm… Terima kasih Haru…Aku berjanji akan menjaganya baik-baik” Sakura tersenyum.
“Terima kasih kembali… ^^”
            Sore itu,adalah saat-saat  yang tak akan pernah mereka lupakan karena,mereka punya banyak waktu yang bisa mereka lewati bersama di rumah Sakura. Dan,tentunya hal itu membuat mereka semakin dekat.
“Kau tahu,rasanya aku ingin hidup 1000 tahun lagi. Kehidupanku jauh lebih menyenangkan, semenjak aku mempunyai sahabat sejati.”Ucap Sakura ketika mereka berada di teras rumahnya,memandangi langit sore.
Haru hanya tersenyum,”Entah kenapa,tapi rasanya kau akan hidup lebih lama daripada aku…” jawabnya llirih.
“Hmm? Kenapa?”
“Entahlah… hanya prediksiku…”Haru mulai tertawa. Sakura menanggapi perkataan Haru hanya sebagai candaan,jadi…ia ikut tertawa dan kembali memandangi awan-awan yang melayang perlahan di atasnya.
***********
            Entah kenapa,tapi sejak bangun tidur,perasaan Haru jadi tidak enak. Dan pagi ini, rasanya ia benar-benar ingin memeluk semua orang terdekatnya. Dimulai dari Toki. Begitu ia menuruni tangga dan melihat Tok di dapur,ia segera memeluk Toki erat-erat seraya berkata,”Aku sayang tante…” seumur hidup Toki,ini adalah kali pertama ia mendengar Haru mengucapkan kalimat itu. Jelas,ini membuatnya heran. “I—iya,iya… Tante juga sayang kamu,” Jawab Toki masih setengah shock dan balas memeluk Haru.
            Begitu Haru sampai di sekolah,ia langsung berusaha menemukan Sakura. Ia memaksa matanya bekerja lebih keras dan lebih jeli untuk menemukan Sakura. Tapi, bukan Sakura yang ditemukannya,melainkan Jeni yang sedang berjalan sendirian tak jauh dari tempat Haru. Dan lagi-lagi,tanpa alasan yang jelas rasanya Haru benar-benar ingin memeluk Jeni. Ia segera menghampiri Jeni dan langsung memeluknya erat-erat.
“Jeni… Maaf,kalau dulu aku punya banyak kesalahan. Maaf kalau aku selalu merepotkanmu,maaf untuk semuanya…”Ucap Haru yang masih memeluk Jeni.”Dan… terima kasih Jeni,kau sudah pernah mau menjadi sahabatku,menemaniku,dan memberiku sejuta kenangan indah. I LoveYou Jeni…” Jeni masih heran dengan perilaku Haru saat ini,namun ia memutukan untuk memeluk Haru juga…
“Itu semua bukan kesalahanmu. Tapi kesalahanku yang terlalu egois. Maaf Haru,aku telah membuatmu menangis,dan terima kasih juga. Karna kau telah menjadi sahabat terbaik untukku. Kau tak pernah tergantikan Haru,tak akan pernah.” Jeni mencurahkan semua isi hatinya. Tepat dihadapan orang yang pernah disakitinya.
            Selesai memeluk Jeni,Haru bergegas ke kelas Sakura. Dan ia beruntung karna Sakura memang ada di sana.
“Sakura…” Ucap Haru pelan seraya langsung memeluk Sakura.
Sakura benar-benar heran,”Ada apa Haru? Kau punya masalah?”
“Tidak… aku hanya,aku hanya… aku hanya ingin memelukmu,”Haru mempererat pelukannya. Sakura balas memluk Haru,meski masih di selimuti perasaan heran.
“Terima kasih Sakura. Terima kasih karna sudah mau menemaniku selama ini. Terima kasih karna sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku sayang kamu…”
“A-mmm…-a…”Sakura masih terbata-bata,”Aku juga sayang kamu Haru…”
            Setelah Haru selesai memeluk Sakura,ia segera kembali ke kelasnya. Meski perasaannya tetap tidak enak,tapi ia tetap berusaha memasang wajah ceria. Menghiasi wajahnya dengan senyuman bersemangat,dan menyapa semua orang yang di lihatnya. Hari ini Haru sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Ia terus terbayang-bayang wajah orang yang disayanginya. Terutama,tiga orang yang dipeluknya erat-erat pagi ini. Rasanya,ia tak ingin kehilangan mereka.
            Bel pulang sekolah akhirnya terdengar. Haru tak seperti biasanya. Ia tak lagi bersemangat saat keluar dari kelas. Langkahnya lemas,ia berjalan tanpa niat. Tapi ia tahu,ia harus pulang. Di depan sekolah,di seberang jalan. Sakura dan Jeni sedang berdiri dalam kegelisahan, menunggu Haru. Dari kejauhan,mereka melihat Haru sedang berjalan dengan sangat pelan sambil melamun.
“HAAARRRUUU….!!!” Teriak Sakura.
Haru mendongak,wajahnya menjadi sumringah saat ia melihat kedua sahabatnya ada di sana,Haru tersenyum seraya melambai kepada mereka.
Sudah sangat dekat. Haru hanya perlu menyebrang jalan,dan ia akan sampai pada kedua sahabatnya. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Hanya perlu beberapa langkah lagi saja. Mereka berdua sudah di depan mata. Haru mulai melangkah-kan kakinya di jalanan aspal yang kasar. Dia sudah sampai di tengah. Hanya sedikit lagi, sedikit lagi…
Namun sayang,tiba-tiba suara benturan keras terdengar dan tiba-tiba saja Haru sudah tergeletak di tengah jalan raya. Bersimbah darah.
“Ha-HAAARRRRUUUU…”Teriak Sakura dan Jeni bersamaan. Mereka histeris dan langsung menghampiri Haru. Sakura meletakkan kepala Haru yang juga sudah berdarah-darah di lengan kanannya. Ia memandang wajah Haru yang sudah bersimbah darah di mana-mana. Rasanya,ini seperti mimpi terburuk Sakura. Ia tak bisa lagi membendung air matanya.
“Ha- ha- haruu…”Ucapnya lirih ditengah tangisan histerisnya.
“Jangan menangis Sakura. Harusnya kau senang,kau sudah berhasil menjadi sahabat sejatiku. Kau sudah berhasil menepati janjimu,kau sudah menjadi sahabatku sampai akhir hayatku.”Ucap Haru lemah,namun ia masih tetap berusaha tersenyum demi sahabat-sahabatny.
“Haru,ber-bertahanlah…”Jeni yang sedari tadi menggenggam tangan kanan Haru mulai ikut menangis.
“Jenii… jangan menangis. Tetap tersenyum…
Kalian semua terima kasih,…Aku sayang kalian…” Setelah mengucapkan kalimat itu,Haru menutup matanya dan berhenti bernafas.
“Haru?Haruuu….!!! Haru,bangun,Haruuu…!!!”Sakura masih menggoncang-goncangkan tubuh Haru,berusaha membuatnya kembali.
“Sakura,Ha-Haru,Haru sudah pergi untuk selamanya…” Ucap Jeni yang langsung menangis histeris.
“A...Ambulance….!!!! CEPAT PANGGIL AMBULANCE!!!”Teriak Sakura kepada semua orang yang menatap mereka tertegun. Satpam sekolah segera mencari telepon dan menghubungi ambulance. Sopir truck yang telah menabrak Haru mulai panik. Tergambar jelas penyesalan di wajahnya. Ia telah membunuh seorang gadis remaja.
            Sakura menatap tubuh lemah Haru yang sudah tak berdaya. Ia sama sekali tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Ia hanya bisa memeluk tubuh Haru yang sudah tak bernyawa. Kenangan-kenangan indah yang telah diberikan Haru untuknya,kini terbayang jelas di pikirannya. Ia akan mmelakukan apapun,untuk membuat Haru kembali. Apapun. Airmatanya masih mengalir,ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
            Jeni menggenggam tangan Haru erat-erat. Ia sangat menyesal sudah pernah meninggalkan sahabat terbaiknya. Kini ia hanya bisa menangisi kepergian Haru yang menyisakan 1000 kenangan indah untuknya. Hanya airmata yang bisa ia keluarkan. Bukan lagi kata-kata.
            Toki yang baru datang seakan tak percaya melihat keponakannya yang tadi pagi baru saja memeluknya dan berkata ‘aku sayang tante’ kini telah tergeletak lemah tak bernyawa dan bersimbah darah di tengah jalan raya. Lutut-lututnya tak kuat lagi membantunya berdiri. Ia bersimpuh di dekat mayat Haru dengan airmata kesedihannya.
            Begitu ambulance datang,mereka membawa mayat Haru ke rumah sakit. Suara sirine ambulance sangat menyayat hati mereka. Apalagi,mereka tahu. Ambulance itu sedang membawa mayat Haru. Orang yang mereka sayang. Toki mulai bisa menenangkan diri. Ia menrangkul Sakura dan Jeni yang masih tersedu-sedu di kanan dan kirinya.
“Sudahlah…jangan menangis lagi. Tante yakin,di sana,Haru tak akan senang melihat kalian menangisinya seperti ini. Harusnya kalian bahagia. Karna,kalian telah memgukir kenangan-kenangan bahagia semasa hidup Haru. Dan harusnya,kalian bersyukur karna tadi pagi, kalian masih sempat mendapat pelukan sayang dari Haru,dan masih bisa mendengar ia berkata ‘aku sayang kalian’…” Toki tersenyum seraya memeluk erat kedua sahabat Haru.
            “Haru,sahabat terbaikku. Terima kasih buat semuanya. Semoga kamu bahagia di sana. Aku akan selalu menyayangimu…”Ucap Sakura dalam hati seraya tersenyum memandang gelang perak pemberian Haru.


Diberdayakan oleh Blogger.
Best Friend More Than All
            Sejak aku menjadi siswa baru di SMP ini,aku merasa  bahagia sekali. Namun,sejak saat itu juga kesepian dan kesendirian selalu menjadi makanan sehari-hariku. Ironisnya,kesepian dan kesendirian itu selalu menghantui hari-hariku selama setahun sejak aku duduk di bangku SMP. Kesepian itu selalu kurasakan karna aku harus rela kehilangan seorang sahabat yang ku kenal sangat baik semasa SD. Sayangnya,ia tak bisa bersekolah di sekolah yang sama denganku.
-_-~-_-~-_-
            Satu tahun telah berlalu.Kini,aku telah duduk di bangku kelas 8,tepatnya di kelas 8F. Di kelas ini,aku mendapat banyak teman baru,suasana baru,dan banyak hal baru yang lainnya. Di kelas inilah aku merasa telah menemukan sosok teman yang berbeda dari temanku yang lain.
“Hai Meyy…!!!” serunya seraya menepuk bahuku.
“Hai” Jawabku dengan nada datar.
“Aku baru tahu kalo kamu di kelas ini juga,”
“Iya,hari pertama masuk sekolah aku sakit. Jadi ngga bisa bisa masuk” jelasku.
“Ooo… hmm,ya udah aku ke sana dulu ya Mey…”
“Iya,”
            Caranya memanggil namaku berbeda dari teman-temanku yang lain. Dia memanggilku “Mey” sedangkan teman-temanku yang lain memanggilku “La”. Dua kata berbeda yang seperti akan sering kudengar.
            Sejak percakapan itulah,hatiku kembali terbuka untuk menerima sosok sahabat yang selama setahun ini kucari. Semakin hari,aku semakin akrab dengannya. Aku semakin sering merasakan kebahagiaan dan keceriaan bersamanya. Aku memberikannya perlakuan yang berbeda kepadanya. Bukan berarti aku lebih mengutamakan dia,malah sebaliknya. Aku lebih menunjukkan kecuekanku di depannya daripada senyumku.
            Tapi,lama-kelamaan aku mulai menyadari bahwa perlakuanku kepada Kya selama ini bukanlah perlakuan yang baik terhadap seorang sahabat. Perlahan,aku mulai berusaha mengubah sikapku kepadanya. Meski rasanya cukup sulit,tapi akhirnya aku berhasil menjalaninya.
^_^~^_^~^_^
            Hari-hariku semakin berwarna dipertengahan kelas 8 ini. Aku tak pernah merasa canggung lagi untuk melemparkan seutas senyum ramah kepada Kya atau bahkan mengucapkan selamat karna prestasi yang didapatnya.
“ Waaah… Kya pinter ya. Bisa dapet nilai ulangan Bahasa Indonesia tertinggi…!” ucapku bersemangat memberikan ucapan selamat kepadanya.
“Haha…itu cuma kebetulan kok Mey…”Jawabnya ramah.
“Hmm…ato…jangan-jangan…. Bu Lina itu ibumu ya? Buktinya nilai Bahasa Indonesiamu bagus-bagus…” Aku mulai tertarik untuk menjailinya
“Ha?
Engga Mey… bukan,Bu Lina bukan ibuku. Hmm… jangan-jangan kamu anaknya Pak Kiki ya? Tiap kali ada tes matematika,pasti nilaimu bagus!” Ucap Kya balas menjailiku.
“Hahaha…”
“Tu kan bener. Buktinya kamu Cuma bisa ketawa,ngga bisa ngelak kan?”
“Heyy…! Ya ngga lah aku kan ngga mirip sama Pak Kiki”
“Mirip kok… sama-sama jago matematika…”
            Canda dan tawa kini telah menjadi suatu hal yang mudah untuk kudapatkan. Hidupku kini jauh lebih berwarna.
^_^~^_^~^_^
            Tak terasa,masa-masa indah di kelas 8 sebentar lagi akan berakhir. UAS sudah ada di depan mata. Semua sibuk belajar. Yaa…walaupun ada juga yang masih malas untuk belajar.~
            Setelah beberapa hari menghadapi soal-soal UAS yang sebagian sempat membuat otakku jungkir balik. Akhirnya UAS selesai. Semua temanku merasa lega dan senang. Tapi,tidak denganku. Aku mulai merasa sedih dan bimbang melihat perubahan sikap Kya terhadapku. Sekarang,dia tak sedekat dulu lagi denganku. Aku sendiri,tak tau pasti apa penyebabnya. Yang pasti,sejak saat itu aku selalu merasa sedih dan kesepian “lagi”.
-_-~-_-~-_-
            Saat memasuki tahun ajaran baru,aku baru mengtahui penyebab perubahan sikap Kya. Dan ternyata,dugaanku 99,9% benar. Kya telah memiliki sahabat baru. Dia adalah Thia,teman sekelasku juga waktu aku masih di kelas 8.
            Kya tak pernah lagi peduli padaku. Sedih dan pedih. Itulah yang selalu aku rasakan. Entah sampai kapan Kya akan menjauhiku. Tapi,sampai kapanpun aku akan tetap mengganggap Kya sebagai “My Best Friend More Than All”. Bagaimanapun sifatnya kepadaku saat ini,aku akan tetap mengganggapnya sebagai sahabat terbaik. Sahabat yang pernah menjadi bintang di hatiku yang selalu menerangi hatiku saat gelap gulita,hening,dan juga sepi. Sampai kapanpun, aku tetap menunggunya kembali menjadi Kya yang dulu.
-_-~-_-~-_-
            Siang itu,aku benar-benar merasa kesepian. Tidak ada lagi teman yang bisa menemaniku. Akhirnya,aku menyerah. Aku tak tahan lagi tinggal dalam kesepian ini. Ini benar-benar menyiksaku. Aku memutuskan untuk mencari teman yang bisa di ajak ngobrol meski hanya lewat pesan singkat. Aku mengirim pesan singkat kepada Thia. Tak lama kemudian,aku mendapat balasan dari Thia. Dan sejak saat itulah,kami berdua mulai akrab.
            Melalui percakapan setiap hari,aku mulai bisa akrab dengan Kya lagi. Dan,keadaan menajdi semakin lebih baik. Karna sekarang aku mendapat sahabat baru. Thia. Sekarang,dia juga menjadi sahabat untukku.
            Hebat kan? Aku bisa mempunyai dua orang sahabat yang sangat berharga dan lebih dari segalanya. Sahabat yang akan mewarnai hari-hari dalam hidupku…. ^^


NB        : buat pengarang cerpennya…maaf ya cerpenmu tak edit-edit sak kerepku dewe ^^                 Plus,maaf  juga kalo nama tokohnya tak samarin semua : D






Sahabat Sejati Untuk Haru
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya kisah terindah
Saat kau peluk erat tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
Kepada Dirimu
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku disetiap langkah
Yang meyakiniku kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil s’luruh ragaku
Kuingin kau tahu,ku s’lalu milikmu
Yang menyayangimu
S’panjang hidupku
               
“Tuhan,tak adakah seorangpun di dunia ini yang Kau ciptakan untukku? Untuk menjadi sahabat sejatiku,untuk menjadi pelipur lara ku? Tak adakah seorangpun di luar sana yang mau menemaniku? Tak adakah seorangpun di luar sana yang bisa berhenti menyakitiku? Yang bisa mengerti perasaanku,dan yang benar-benar mau menyayangiku? Tuhan,hanya Engkau yang mengerti perasaanku saat ini…”
Tanpa bisa dibendung lagi,airmata Haru mengalir deras membasahi wajahnya. Rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan Haru saat ini,membuat air matanya tak bisa berhenti mengalir. Seorang sahabat yang dulu pernah menjadi orang yang paling berharga dalam hidup Haru,tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang sangat mengecewakan untuk Haru. Ia berubah menjadi seteru Haru. Ia tak lagi peduli pada perasaan Haru,kasih sayang yang dulu pernah diberikannya untuk Haru tiba-tiba saja lenyap. Haru tak tahu lagi harus berbagi kisah kepada siapa. Dulu,ada sahabat yang selalu ada disaat Haru dalam masalah untuk meringankan beban Haru,untuk menemani Haru,untuk menghibur Haru,dan untuk memberikan pelukan erat pada Haru.
Tapi sekarang,gadis remaja itu hanya bisa mengurung diri di kamar,menangis sendirian dalam kesedihan,dan hanya bisa meratapi masa lalunya. Kenangan-kenangan indah di masa lalu Haru,kini telah menjadi sayatan menyakitkan untuk Haru.
***********
            Haru menuruni tangga menuju ruang makan dengan wajah masam dan mata sembab. Ia bahkan tak lagi menata rambutnya seperti yang biasa dilakukannya setiap hari. Ia membiarkan rambut lurus sebahu yang berwarna hitam tegerai begitu saja.Dari penampilannya saja,sudah terlihat bahwa Haru hari ini sangat tidak bersemangat.
“Haru? Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanya Toki,tante Haru cemas,ketika melihat kondisi keponakannya.
Haru tersenyum kecil dengan terpaksa,”Aku baik-baik saja…”
“Kalo kau sakit. Kau bisa tetap di rumah,tidak perlu pergi ke sekolah,”Toki masih tetap mencemaskan Haru.
“Aku baik-baik saja Tante… hanya….punya sedikit masalah…” jelas Haru berusaha membuat Toki tidak mencemaskannya lagi.
Toki sedikit lega mendengar penjelasan Haru,”Masalah karna sahabat lagi?” Toki tampaknya sudah paham benar dengan keponakannya. Satu-satunya hal selain keluarga yang bisa membuat Haru menangis,adalah sahabat.
Haru hanya mengangguk. Ia bersyukur karna mempunyai Tante yanf tidak selalu ingin tahu urusan orang lain. Jadi,ia tak perlu menceritakan masalahnya,karna itu hanya akan membuatnya menangis lagi. Haru hanya minum setengguk susu dari gelas,hanya untuk menghargai Toki yang sudah menyiapkan sarapan untuknya. Meski sebenarnya,hari ini ia sama sekali tak punya nafsu makan. Haru bergegas meninggalkan ruang makan.
“Aku berangkat Tan…” ucap Haru seraya mengenakan tas ranselnya.
“Iya,hati-hati Haru… tetap semangat…! Hmm…apa kau tidak merasa keberatan dengan matamu?” Ucap Toki bermaksud mengingatkan Haru pada mata sembabnya.
Haru berpikir sejenak,jika ia datang ke sekolah dengan wajah seperti ini,pastinya akan ada banyak pertanyaan yang harus ia jawab. Untuk hari ini,Haru benar-benar tidak ingin banyak bicara,bahkan jika diizinkan,ia ingin mengunci rapat-rapat mulutnya.”Hmm… sebenarnya,ini sedikit mengganggu…” jawab Haru setelah mempertimbangkan semuanya.
“Kalau begitu,pakai ini…”Toki memberikan sebuah kacamata berlensa bening dengan tangkai berwarna ungu kepada Haru. Setidaknya, kacamata itu bisa menyamarkan mata sembab Haru. “Terima kasih…”Jawab Haru dan langsung berangkat ke sekolah.
***********
            Suasana sekolah pagi ini sangat ceria. Semua anak yang ada di halaman sekolah sedang mengumbar senyum mereka. Menunjukkan betapa senangnya mereka hari ini. Haru berjalan perlahan melewati halaman sekolah yang cukup luas. Di salah satu kursi di bawah pohon rindang di halaman sekolah,sekelompok anak sedang berkumpul menyanyikan lagu-lagu ceria,salah satu diantara mereka sedang asyik memainkan gitar mengiringi suara nyanyian teman-temannya. Melihat semangat anak-anak yang lain,Haru mulai mendapatkan semangatnya kembali. Sayangnya,sewaktu Haru berjalan di dekat mereka,mereka sedang menyanyikan lagu yang membuat kegalauan Haru datang lagi…
“Menatap indahnya senyuman di wajahmu…membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya kisah terindah….saat kau peluk erat tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan kepada dirimu…
Aku ingin engkau selalu…hadir dan temani aku disetiap langkah…..”
sebelum lagu itu selesai dinyanyikan,Haru sudah bergegas meninggalkan halaman sekolah yang ramai. Ia berusaha menemukan tempat yang sepi karna air matanya mulai menetes lagi…
            Di balik kacamatanya,mata Haru mulai menghujani wajah Haru dengan air mata kesedihannya lagi. Haru mulai menangis tak terkendali,menangis dalam kesunyian, dn hanya ditemani semilir angin lembut pagi itu.
“Haru?” terdengar suara dari belakang Haru. Suara yang tak asing lagi bagi Haru.
Haru hanya terdiam dan berusaha menghentikan tangisannya. Ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui masalahnya. Ia ingin menyimpan dan menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi tampaknya,usaha Haru sia-sia. Sudah terlambat. Karna sesosok wanita yang dikenal Haru sudah berdiri di depan gadis yang biasanya ceria itu dan secara langsung sudah memergoki Haru yang sedang menangis.
“Haru,kamu kenapa?” tanyanya cemas.
Haru tak bisa menjawab. Mulutnya benar-benar terkunci rapat dan sangat susah di buka, apalagi untuk mengeluarkan suara. “Haru,...”tanyanya lagi.
“A-aku…”Haru tak bisa lagi meneruskan kalimatnya. Ia hanya bisa menangis. Kini,seluruh tubuhnya gemetar,ia tak bisa mengendalikan dirinya. Sakura,yang sedari tadi berdiri di depan Haru dan berusaha menenangkannya,tak tahu lagi harus berbuat apa.
Melihat kesedihan Haru,mata Sakura mulai ikut berkaca-kaca,ia tahu kalaupun ia bertanya pada Haru,ia tak akan mendapat jawaban. Ia ingin menenangkan Haru,tapi benar-benar tak tahu caranya. Ia mendekat pada Haru,memegang kedua tangan Haru yang sedari tadi menutupi mulutnya.
“Haru,berhentilah menangis. Aku benar-benar tak ingin melihatmu sedih seperti ini.”Ucap Sakura penuh perasaan. Saat itu juga,ketika mendengar kalimat Sakura,Haru teringat pada Jeni,sahabat terbaiknya yang kini telah membuatnya menangis seperti ini. Haru mulai limbung,ia kehilangan keseimbangan karna kepalanya mulai pusing. Sakura menarik tangan Haru dan memeluknya erat-erat. Berusaha menahan Haru supaya tidak terjatuh,dan juga berusaha membuat Haru tenang.
Pelukan erat dan tulus Sakura mulai membuat Haru tenang. Kepalanya juga tak lagi terasa pusing. Air matanya mulai berhenti mengalir. Kini,Haru hanya tersedu-sedu di pelukan Sakura. “Tenangkan dirimu Haru,atur nafasmu…”Ucap Sakura lembut. Haru merasa setetes air telah jatuh di pundaknya. Awalnya ia kebingungan,sampai akhirnya ia sadar….Haru melepas pelukannya dan memandang wajah Sakura.
“Sakura,kau menangis?”Tanya Haru ketika ia memergoki gadis manis berwajah lugu itu menangis. Gadis itu hanya tersenyum. “Kenapa?”Haru mulai cemas.
“Aku,aku,hanya tak ingin melihatmu sedih,apalagi sampai menangis.”Jawab Sakura seraya tersenyum  manis.
Tentunya,Haru kaget mendengar jawaban Sakura. Sejak dulu,dia memang sudah menjadi teman Sakura,tapi ia sama sekali tak menyangka jika Sakura bisa menangis saat melihat Haru menangis. Ia sama sekali tak menduganya
“Sakura,terima kasih…” ucap Haru pelan seraya tersenyum senang.
Singkat cerita,sejak hari itu Haru dan Sakura mulai dekat. Kesedihan yang dulu sempat dirasakan Haru karna sahabatnya,perlahan-lahan mulai hilang. Ia kembali menjadi anak yang ceria sekarang. Bahkan,jauh lebih ceria lagi. Haru tak pernah lagi menangis ataupun merasa kesepian. Kini,ia punya teman baik untuk berbagi,teman baik yang selalu ada untuk Haru.
Bel pulang telah berbunyi,semua anak berhamburan keluar kelas. Haru sedang menunggu di depan sekolah. Menunggu Sakura muncul. Dari kejauhan,dilihatnya Jeni sedang berjalan bersama seorang anak perempuan sebayanya. Tampaknya,itu teman sekelas Jeni. Jeni tampak bahagia,senyuman ceria selalu mengembang di wajah cantiknya.
“Aku tak perlu kuatir,karna Jeni sekarang sudah bahagia dengan sahabat barunya. Sepertinya,aku memang bukan sahabat yang baik…
J ”Ucap Haru dalam hati.
“HAARRRUUUU….!!!” Terdengar suara riang memanggil Haru. Ketika Haru mengalihkan pandangannya dari Jeni, dilihatnya Sakura sudah berada di seberang jalan,tepat di seberang Haru. Ia melambai dan bergegas menyebrangi jalan raya.
“Hai Sakuraa…”Sapa Haru ketika Sakura sudah berada di sebelahnya.
“Hai…! Ikut aku yuk…”Ajak Sakura seraya menggandeng tangan Haru.
“Hmm? Mau kemana?” tanya Haru penasaran.
“Sudahlah…ayo! Ikut saja…” jawab Sakura yang semakin membuat Haru penasaran. Akhirnya,Haru memutuskan untuk mengikuti Sakura tanpa tahu kemana sebenarnya tujuan gadis itu.
Ternyata,Sakura membawa Haru ke taman kota. Taman kota hari ini tampak sedikit lengang. Jadi,ada banyak bangku-bangku kosong yang bisa mereka tempati. Sakura mengajak Haru duduk di bangku taman yang berada di dekat kolam ikan. Kolam ini tampak indah berhiaskan bunga teratai yang kebanyakan berwarna ungu.
“Ini tempat favoritku,”ucap Sakura memecah keheningan.
“Kamu sering datang ke sini?”
“Ehem,sesering yang aku bisa. Tapi biasanya,aku hanya datang sendiri,”Sakura mengarahkan pandangannya ke arah kolam yang mirip danau buatan itu,menikmati pemandangan yang ada. “Ada kalanya,ketika aku datang ke sini,aku akan pulang sambil meneteskan air mata.” Haru mengeryit heran mendengar kalimat Sakura,namun sebelum ia sempat bertanya,Sakura sudah meneruskan kalimatnya,”Aku sering melihat sepasang sahabat sedang berjalan di sekitar sini. Dan…itu membuatku iri,rasanya ini sangat tak adil. Kenapa mereka bisa mempunyai sahabat sejati,sementara aku tidak? Aku sudah berusaha menemukan sahabat sejatiku,tapi hasilnya,nol. Tak ada satupun yang kudapat selain rasa sakit hati. Hingga suatu hari,ada sebuah suara yang muncul entah darimana dan yang berbicara kepadaku,seolah-olah ia sangat mengenalku. ‘Sakura,jika kau tak bisa menemukan sahabat sejatimu,itu artinya kau memang tidak ditakdirkan untuk menemukan sahabat sejati seperti orang lain. Mungkin takdirmu berbeda dengan takdir orang lain,jika mereka ditakdirkan untuk menemukan seorang sahabat sejati,kau ditakdirkan untuk menjadi sahabat sejati untuk seseorang….’ “ kini Sakura berhenti berbicara.
            Mereka berada dalam suasana hening. Tak ada lagi berbicara,tak ada suara selain suara angin lembut di siang hari dan suara kicau burung yang ceria. Cahaya matahari yang hangat membuat mereka berada dalam keadaan nyaman. Pepohonan di belakang mereka sesekali bergoyang mengikuti irama `ngin. Permukaan air kolam yang tenang,seakan ikut menjaga keheningan.
“Haru…”Suara lembut Sakura yang terdengar di sela-sela tiupan angin membuat Haru tersadar dari lamunannya.
“I..iya…” Haru sedikit terkejut karna tiba-tiba saja suara Sakura terdengar di tengah keheningan. Ia mengira,Sakura ingin mengajaknya pulang. Jadi,ia membenahi posisi tas ransel di punggungnya dan posisi duduknya sudah di ujung kursi,bersiap-siap untuk berdiri.
“Aku ingin menjadi sahabat sejati untukmu.” Ucap Sakura seraya mengalihkan pandangannya ke arah  Haru.
Haru terkejut mendengar ucapan Sakura. Ia benar-benar tak menyangka Sakura akan mengucapkan kalimat itu,”a-a-apa?” Haru masih tampak heran dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Aku ingin menjadi sahabatmu sampai akhir hayatmu. Aku berjanji,aku akan menjadi sahabat yang baik,aku akan selalu ada untukmu,dan aku berjanji tak akan pernah membuatmu menangis.” Ucap Sakura dengan nada serius sembari memandang Haru dan tersenyum tulus.”
Haru tersenyum,”Terima kasih Sakura. Kau datang disaat yang tepat,membuatku bisa melupakannya.”Haru masih tetap tersenyum. Kini,ia tak lagi ingat pada rasa sakitnya,yang dirasakannya hanya kebahagiaan. Ia sama sekali tak menyangka,bahwa ia akan mendapat sahabat baru secepat ini.
“Hmm… kalau begitu,untuk merayakannya….ayo kita beli ice cream!!!”Ajak Sakura riang.

***********
          Rasanya,hari ini adalah hari terbaik untuk Sakura dan Haru. Mereka menjadi sahabat baik. Hari-hari mereka diwarnai keceriaan bersama. Setiap pagi,mereka mendapat semangat baru untuk memulai hari. Tak ada lagi air mata,tak ada lagi kata kesepian ataupun galau. Hanya canda tawa dan kebahagiaan…
            Haru tak akan menangis lagi meski ia teringat pada Jeni. Meski ia mendengar lagu-lagu sedih,bahkan meski ia mendapat masalah. Karna,ada Sakura yang selalu menemani-nya. Ada Sakura yang akan selalu siap membantunya saat ia dalam kesulitan. Hari-hari Haru rasanya sangat sempurna. Ia punya segalanya. Ia punya apa yang telah ia cari selama ini,’sahabat sejati’.
***********
            Sore hari yang cerah. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Mendadak,gerbang sekolah dipenuhi anak-anak yang sudah tak sabar lagi ingin sampai di rumah masing-masing,dan melepas lelah. Seperti biasa,Haru berdiri di bawah salah satu pohon di halaman sekolah untuk menunggu Sakura. Hari ini,mereka sudah membuat rencana. Mereka akan pergi ke rumah Sakura.
“Harruuu…!!!” Tak lama kemudian,Sakura datang dengan nafas setengah terengah-engah. “Maaf,membuatmu menunggu…”
“Tidak apa-apa … aku juga baru keluar”
“Kita berangkat sekarang?”
“ayo…”
            Berjalan bersama sahabat di bawah naungan langit sore yang cerah. Diiringi hembusan angin lembut,kicauan burung-burung yang ceria,dan bunyi daun-daun di atas pohon yang tertiup angin. Rasanya,ini adalah suasana yang paling sempurna.
“Oh iya…” di tengah perjalanan mereka,tiba-tiba saja Haru berhenti dan merogoh sakunya.”Hampir saja lupa,”
“Kenapa?”Tanya Sakura heran.
“Sini…”Haru menarik perlahan tangan kiri Sakura,lalu memasangkan sebuah gelang berwarna perak ke tangannya. “Simpan baik-baik yaa... Ini gelang persahabatan kita. Sama  seperti punyaku kan…” Ucap Haru girang,seraya menunjukkan tangan kirinya yang sudah dipasangi gelang yang sama.
“Hmm… Terima kasih Haru…Aku berjanji akan menjaganya baik-baik” Sakura tersenyum.
“Terima kasih kembali… ^^”
            Sore itu,adalah saat-saat  yang tak akan pernah mereka lupakan karena,mereka punya banyak waktu yang bisa mereka lewati bersama di rumah Sakura. Dan,tentunya hal itu membuat mereka semakin dekat.
“Kau tahu,rasanya aku ingin hidup 1000 tahun lagi. Kehidupanku jauh lebih menyenangkan, semenjak aku mempunyai sahabat sejati.”Ucap Sakura ketika mereka berada di teras rumahnya,memandangi langit sore.
Haru hanya tersenyum,”Entah kenapa,tapi rasanya kau akan hidup lebih lama daripada aku…” jawabnya llirih.
“Hmm? Kenapa?”
“Entahlah… hanya prediksiku…”Haru mulai tertawa. Sakura menanggapi perkataan Haru hanya sebagai candaan,jadi…ia ikut tertawa dan kembali memandangi awan-awan yang melayang perlahan di atasnya.
***********
            Entah kenapa,tapi sejak bangun tidur,perasaan Haru jadi tidak enak. Dan pagi ini, rasanya ia benar-benar ingin memeluk semua orang terdekatnya. Dimulai dari Toki. Begitu ia menuruni tangga dan melihat Tok di dapur,ia segera memeluk Toki erat-erat seraya berkata,”Aku sayang tante…” seumur hidup Toki,ini adalah kali pertama ia mendengar Haru mengucapkan kalimat itu. Jelas,ini membuatnya heran. “I—iya,iya… Tante juga sayang kamu,” Jawab Toki masih setengah shock dan balas memeluk Haru.
            Begitu Haru sampai di sekolah,ia langsung berusaha menemukan Sakura. Ia memaksa matanya bekerja lebih keras dan lebih jeli untuk menemukan Sakura. Tapi, bukan Sakura yang ditemukannya,melainkan Jeni yang sedang berjalan sendirian tak jauh dari tempat Haru. Dan lagi-lagi,tanpa alasan yang jelas rasanya Haru benar-benar ingin memeluk Jeni. Ia segera menghampiri Jeni dan langsung memeluknya erat-erat.
“Jeni… Maaf,kalau dulu aku punya banyak kesalahan. Maaf kalau aku selalu merepotkanmu,maaf untuk semuanya…”Ucap Haru yang masih memeluk Jeni.”Dan… terima kasih Jeni,kau sudah pernah mau menjadi sahabatku,menemaniku,dan memberiku sejuta kenangan indah. I LoveYou Jeni…” Jeni masih heran dengan perilaku Haru saat ini,namun ia memutukan untuk memeluk Haru juga…
“Itu semua bukan kesalahanmu. Tapi kesalahanku yang terlalu egois. Maaf Haru,aku telah membuatmu menangis,dan terima kasih juga. Karna kau telah menjadi sahabat terbaik untukku. Kau tak pernah tergantikan Haru,tak akan pernah.” Jeni mencurahkan semua isi hatinya. Tepat dihadapan orang yang pernah disakitinya.
            Selesai memeluk Jeni,Haru bergegas ke kelas Sakura. Dan ia beruntung karna Sakura memang ada di sana.
“Sakura…” Ucap Haru pelan seraya langsung memeluk Sakura.
Sakura benar-benar heran,”Ada apa Haru? Kau punya masalah?”
“Tidak… aku hanya,aku hanya… aku hanya ingin memelukmu,”Haru mempererat pelukannya. Sakura balas memluk Haru,meski masih di selimuti perasaan heran.
“Terima kasih Sakura. Terima kasih karna sudah mau menemaniku selama ini. Terima kasih karna sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku sayang kamu…”
“A-mmm…-a…”Sakura masih terbata-bata,”Aku juga sayang kamu Haru…”
            Setelah Haru selesai memeluk Sakura,ia segera kembali ke kelasnya. Meski perasaannya tetap tidak enak,tapi ia tetap berusaha memasang wajah ceria. Menghiasi wajahnya dengan senyuman bersemangat,dan menyapa semua orang yang di lihatnya. Hari ini Haru sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Ia terus terbayang-bayang wajah orang yang disayanginya. Terutama,tiga orang yang dipeluknya erat-erat pagi ini. Rasanya,ia tak ingin kehilangan mereka.
            Bel pulang sekolah akhirnya terdengar. Haru tak seperti biasanya. Ia tak lagi bersemangat saat keluar dari kelas. Langkahnya lemas,ia berjalan tanpa niat. Tapi ia tahu,ia harus pulang. Di depan sekolah,di seberang jalan. Sakura dan Jeni sedang berdiri dalam kegelisahan, menunggu Haru. Dari kejauhan,mereka melihat Haru sedang berjalan dengan sangat pelan sambil melamun.
“HAAARRRUUU….!!!” Teriak Sakura.
Haru mendongak,wajahnya menjadi sumringah saat ia melihat kedua sahabatnya ada di sana,Haru tersenyum seraya melambai kepada mereka.
Sudah sangat dekat. Haru hanya perlu menyebrang jalan,dan ia akan sampai pada kedua sahabatnya. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Hanya perlu beberapa langkah lagi saja. Mereka berdua sudah di depan mata. Haru mulai melangkah-kan kakinya di jalanan aspal yang kasar. Dia sudah sampai di tengah. Hanya sedikit lagi, sedikit lagi…
Namun sayang,tiba-tiba suara benturan keras terdengar dan tiba-tiba saja Haru sudah tergeletak di tengah jalan raya. Bersimbah darah.
“Ha-HAAARRRRUUUU…”Teriak Sakura dan Jeni bersamaan. Mereka histeris dan langsung menghampiri Haru. Sakura meletakkan kepala Haru yang juga sudah berdarah-darah di lengan kanannya. Ia memandang wajah Haru yang sudah bersimbah darah di mana-mana. Rasanya,ini seperti mimpi terburuk Sakura. Ia tak bisa lagi membendung air matanya.
“Ha- ha- haruu…”Ucapnya lirih ditengah tangisan histerisnya.
“Jangan menangis Sakura. Harusnya kau senang,kau sudah berhasil menjadi sahabat sejatiku. Kau sudah berhasil menepati janjimu,kau sudah menjadi sahabatku sampai akhir hayatku.”Ucap Haru lemah,namun ia masih tetap berusaha tersenyum demi sahabat-sahabatny.
“Haru,ber-bertahanlah…”Jeni yang sedari tadi menggenggam tangan kanan Haru mulai ikut menangis.
“Jenii… jangan menangis. Tetap tersenyum…
Kalian semua terima kasih,…Aku sayang kalian…” Setelah mengucapkan kalimat itu,Haru menutup matanya dan berhenti bernafas.
“Haru?Haruuu….!!! Haru,bangun,Haruuu…!!!”Sakura masih menggoncang-goncangkan tubuh Haru,berusaha membuatnya kembali.
“Sakura,Ha-Haru,Haru sudah pergi untuk selamanya…” Ucap Jeni yang langsung menangis histeris.
“A...Ambulance….!!!! CEPAT PANGGIL AMBULANCE!!!”Teriak Sakura kepada semua orang yang menatap mereka tertegun. Satpam sekolah segera mencari telepon dan menghubungi ambulance. Sopir truck yang telah menabrak Haru mulai panik. Tergambar jelas penyesalan di wajahnya. Ia telah membunuh seorang gadis remaja.
            Sakura menatap tubuh lemah Haru yang sudah tak berdaya. Ia sama sekali tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Ia hanya bisa memeluk tubuh Haru yang sudah tak bernyawa. Kenangan-kenangan indah yang telah diberikan Haru untuknya,kini terbayang jelas di pikirannya. Ia akan mmelakukan apapun,untuk membuat Haru kembali. Apapun. Airmatanya masih mengalir,ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
            Jeni menggenggam tangan Haru erat-erat. Ia sangat menyesal sudah pernah meninggalkan sahabat terbaiknya. Kini ia hanya bisa menangisi kepergian Haru yang menyisakan 1000 kenangan indah untuknya. Hanya airmata yang bisa ia keluarkan. Bukan lagi kata-kata.
            Toki yang baru datang seakan tak percaya melihat keponakannya yang tadi pagi baru saja memeluknya dan berkata ‘aku sayang tante’ kini telah tergeletak lemah tak bernyawa dan bersimbah darah di tengah jalan raya. Lutut-lututnya tak kuat lagi membantunya berdiri. Ia bersimpuh di dekat mayat Haru dengan airmata kesedihannya.
            Begitu ambulance datang,mereka membawa mayat Haru ke rumah sakit. Suara sirine ambulance sangat menyayat hati mereka. Apalagi,mereka tahu. Ambulance itu sedang membawa mayat Haru. Orang yang mereka sayang. Toki mulai bisa menenangkan diri. Ia menrangkul Sakura dan Jeni yang masih tersedu-sedu di kanan dan kirinya.
“Sudahlah…jangan menangis lagi. Tante yakin,di sana,Haru tak akan senang melihat kalian menangisinya seperti ini. Harusnya kalian bahagia. Karna,kalian telah memgukir kenangan-kenangan bahagia semasa hidup Haru. Dan harusnya,kalian bersyukur karna tadi pagi, kalian masih sempat mendapat pelukan sayang dari Haru,dan masih bisa mendengar ia berkata ‘aku sayang kalian’…” Toki tersenyum seraya memeluk erat kedua sahabat Haru.
            “Haru,sahabat terbaikku. Terima kasih buat semuanya. Semoga kamu bahagia di sana. Aku akan selalu menyayangimu…”Ucap Sakura dalam hati seraya tersenyum memandang gelang perak pemberian Haru.




<a href=&#8221;http://zawa.blogsome.com&#8221;>Zawa Clocks</a>